Wawancara Tokoh


PL 3/A/2018                                                                                                   Mia Helmiyani
                                                                                                                       
Budayawan Sunda, Iman Soleh:
                                   Dari “Iqro’”  ke  Kalam         
 

Foto: Tasya Chrismonita
Iman Soleh saat diwawancarai oleh Mia Helmiyani di Kampus Institut Seni Budaya Indonesia Jl.  Buah Batu No.212, Cijagara, Lengkong, Bandung (24/05/2018) 
 
I
man Soleh budayaman dan seniman teater ini bersyukur hidup di lingkungan kesenian saat beliau masih kecil. Iman juga sangat bangga berada di negara yang memiliki budaya dan seni yang beragam. Dengan kecintaannya terhadap dunia seni khususnya teater, Iman menjadi penggerak komunitas Centre Culture of Ledeng (CCL) atau Celah-Celah Langit. Iman juga merupakan mantan jurnalis kompas hingga tahun 2016.
Selain seni teater, Iman Soleh juga menyukai puisi. Iman kenal akrab dengan Taufik Ismail dan penyair-penyair  lain serta sering membacakan karya-karya mereka di berbagai acara. Baginya, kesenian adalah cara kita untuk berbicara dengan banyak orang dan dapat mempertemukan dengan yang tak bertemu. Dan dapat mempertemukan kita dengan Tuhan.
Iman sangat dekat dengan masyarakat dan para mahasiswa  Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) tempat ia mengajar. Saat melakukan wawancara pun, banyak para dosen dan mahasiswa yang menyapa, dan beliau membalasnya dengan sedikit candaan.
Hidup di keluarga yang memiliki nilai dan moral yang tinggi. Adik dari Tisna Sanjaya ini sangat mengidolakan ibunya. “Ibu saya mengajarkan berdo’a dan ayah saya mengajarkan saya bekerja”, kata Iman saat ditemui di Kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada Kamis, 24 Mei 2018.
Sejak umur berapa tahun Anda menyukai seni teater ?
Saya lahir di Bandung, dulu saat saya masih kecil sebelum dibangun terminal ledeng, tempat tinggal saya bernama kampung nagrak. Pak RW di kampung saya adalah seorang dalang, tetangga saya adalah para pemain longser, sebelahnya pencak silat, jadi di wilayah kami ada 13 grup kesenian. Bahkan sebelum saya SD, masjid pun merupakan pusat kebudayaan sehingga banyak kesenian seperti wayang golek, marawis, dan sebagainya. Jadi, kalau ditanya sejak kapan ya sejak kecil karena lingkungan saya merupakan lingkungan berkesenian.
Apakah Anda terlahir dari keluarga yang memang senang dengan dunia kesenian ?
Bahkan jauh dari kesenian, tapi ayah saya mendukung. Mungkin turunan dari atas, karena buyut saya seorang dalang. Dan ibu saya sangat senang membaca dan pandai melukis, hampir semua isi rumah kami itu arsitekturnya ibu saya.
Dari 16 orang bersaudara, apakah semuanya seniman ?
Hampir semua berkesenian, ada yang di seni musik, seni rupa, tari, dan teater. Meskipun ada yang menjadi Bupati, Dosen, dan yang lainnya. Tapi mereka tetap senang memainkan alat musik dan menulis puisi. Dan semua diminta untuk mencari ilmu, pokoknya kalau untuk mencari ilmu ayah dan ibu saya sampai berdarah-darah. Ayah saya sering mengajarkan bahwa profesi tidak ada hubungannya dengan rezeki. Kalau mau mengembara ke manapun, maka pelajari saja kesenian.
Tema apa yang banyak diangkat di teater Anda ?
SDA dan SDM
Mengapa?
Saya kalau berkesenian harus pakai riset, contohnya tiga karya sebelumnya. Pertama, tentang “Air”, itu berangkat dari keprihatinan saya terhadap air karena air di Indonesia termasuk paling mahal, harganya pun sama dengan bensin, itu aneh dan saya kritik habis. Ternyata setelah diteliti jumlah mata air di Jawa Barat saja mencapai 420’an mata air, tapi sekarang hanya tinggal 3 bahkan 2 mata air saja. Kedua, yaitu tentang “Tanah”, karena riset kami tentang UU Agraria yang tidak mengalami perubahan. Kami prihatin, UU Agraria tidak terlalu tegas terhadap pertanian. Dan ketiga yaitu tentang Petani yang berjudul “Sawah di Kepalamu”. Indonesia merupakan negara yang agraris dan maritim, tetapi tidak ada yang mau menjadi petani. Sehingga ketahanan pangan kita buruk dan rupanya petani identik dengan kemiskinan.. Harga beras yang mahal, padahal dari petaninya hanya dijual berapa. Ini ada regulasi yang aneh, karena petani tidak bisa menjual berasnya langsung kepada konsumen.
Penghargaan apa saja yang pernah Anda raih ?                                             
Banyak sekali, di Indonesia menjuarai lomba puisi, diundang ke World Performing Art Festival di Lahore, Pakistan sebagai pertunjukkan juara terbaik. Kemarin baru menjadi perwakilan ASIA dalam Puncak Seni dan ada 9 negara tampil.
Bisa diceritakan, bagaimana Anda bisa berkesempatan belajar di beberapa negara Asia dan Eropa ?
Sebetulnya yang mempertemukan jarak adalah kesenian. Saya yakin bahwa kesenian mempertemukan kita dengan Tuhan. Di sana saya bekerja, sekolah, dan berkesenian. Bagaimana bisa? Yang pasti berusaha dan selalu berpikir yang baru untuk perubahan, kemanusiaan, dan lingkungan. Kesenian merupakan cara kita berbicara kepada banyak orang, dan mempertemukan yang tidak bertemu. Saya beruntung bisa melihat berbagai negara di Dunia dan kesenian yang ada di sana.
Perbedaan kesenian yang ada di Indonesia dengan di negara maju ?
Kegiatannya sama, cuman rumit dalam perizinan. Di Indonesia kita bebas melakukan kegiatan kesenian. Tapi di sana sangat rumit mendapatkan izin. Anda mendengarkan musik di kamar, Anda bisa digugat oleh kamar sebelah. Dan itu yang menjadi saya cinta Negara Indonesia.
Berapa lama  Anda belajar di Madagaskar, Jepang, dan Prancis ?
Tidak terlalu lama. Paling lama dan susah keluar itu di Reunion Island, karena itu pulau kecil  sebelah timur Madagaskar di Samudera Hindia. Karena orang hanya bisa keluar setelah menunggu 40 hari. Di Jepang, Prancis, dan yang lainnya pun tidak terlalu lama, bolak-balik saja karena banyak sekali pertunjukkan dan menjadi Asisten Sutradara di sana.
Kampung ini disebut sebagai kampung budaya. Itu artinya isinya bukan hanya seni teater ?
Dominan di teater, seni musik, tari, pencak silat, dan sastra, seni rupa pun ada.

Komunitas CCL  menjadi tempat yang egaliter. Mengapa ?
Karena siapapun bisa menikmatinya, dan saya senang bisa dekat dengan masyarakat. Banyak mahasiswa yang tinggal di tempat saya.
Di komunitas ini, kebanyakan yang memainkan peran apakah dari kalangan muda ?
Justru kalangan muda sangat sulit, tapi tahun sekarang lebih banyak anak-anak.
Apa yang membedakan komunitas CCL dengan komunitas budaya yang lain ?
Pastilah ada yang berangkat dari literatur jadilah aktivitas, ada yang berangkat dari aktivitas jadilah literasi, terserah mau berangkat dari mana. Mungkin sama tapi mungkin juga berbeda. Dan yang membedakannya  mungkin saya lebih berkemampuan dalam kesenian atau lebih spesifik. Dimulai dari “iqro’” dan diakhiri dengan “kalam”.
Anda kenal akrab dengan Taufik Ismail atau penyair lainnya ?
Ya, karena dengan Taufik Ismail kami mempunyai program “Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya”. Taufik Ismail adalah motornya, dan saya dianggap sebagai anak beliau. Taufik Ismail lounching buku dengan saya, begitupun dengan Goenawan Mohamad, Ajip Rosidi, Mas Willy, W.S Rendra, dan Sitor Situmorang. Dari penyair-pemyair dan guru-guru besar tersebut saya banyak belajar. Alhamdulillah..
Bagaimana kondisi seni teater pada jaman Orde Baru ?
Pada jaman Orde Baru, tidak ada kebebasan berekspresi, jika komunitas CCL melakukan pertunjukkan justru mendapat larangan dan perijinan yang ketat.
Apa kesulitan dalam memainkan peran di teater dan atau membaca puisi ?
Kesulitannya tidak ada, justru sudah sangat senang. Justru menarik karena sulit, menarik karena rumit, dan menarik karena misterius. Karena bidangya justru malah menyenangkan, ketika kamu ada masalah harusnya seneng karena akan mencari ilmu baru

Apa tanggapan Anda tentang puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Sebuah Kamar” yang pernah Anda bacakan di Rumah Budaya Fadli Zon ?
Puisi-puisi Chairil Anwar memang susah untuk diduga, terus akhirnya mau ke mana. Tapi,saya suka dengan kesederhanaannya meskipun sulit untuk diduga. Saya sangat kenal dengan puisi-puisi Chairil Anwar, dia kadang meledak-ledak seperti binatang tetapi kadang pula ringkih dengan dirinya. Saya menyukai Chairil Anwar bukan karena nasionalismenya, tapi karena dia melampui jamannya dalam segi kata dan rasa.
Saat Anda membacakan puisi, Anda sangat mampu membuat orang lain hanyut dalam keadaan, dengan penjiwaan yang begitu dalam. Apalagi saat membaca puisi “Jante Arkidam” karya Ajip Rosidi. Apa kiatnya ?
Bersahabatlah dengan ketekunan, dan berlatihlah dengan lebih keras kalau perlu keluarkan keringat yang banyak. Saya banyak melihat para pemain teater dan penulis keringatnya sangat sedikit. Tapi lahir batinnya berkeringat, pikiran mereka berkeringat. Saya pikir ukuran keringat itu sangat penting.
Menurut Anda, apa yang menjadi keresahan dan tantangan masyarakat saat ini di bidang kesenian ?
Menuru saya, kesenian harus menjadi ketahanan sosial. Kita harus menemukan strategi kebudayaan. Dan kita melepaskan diri dari tradisi bukan? Banyak yang tidak menjaga tradisinya dengan baik. Bandingkan jika di Jepang, sangat terasa Jepangnya, sangat tradisional walaupun modern, Tetapi Indonesia justru modern padahal tradisional, padahal Indonesia itu beragam dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Kita tidak memiliki museum bahasa, kita tidak menyadari bahwa negeri kita dengan 17 ribu pulau di Indonesia dan memiliki 640 ribu bahasa.
Menurut Anda, bagaimana prediksi seni teater di masa depan ?
Tidak mudah diduga apalagi kebudayaan. Tapi mungkin, dia bukan dibicarakan tetapi akan membicarakan berbagai persoalan yang dekat dan intim. Bukan hanya bergerak dalam kesenian yang ansih, tetapi akan lebih bergerak dalam wilayah persoalan sosial. Bukan hanya tontonan tetapi juga tuntunan. Akan menciptakan dialektika dan diskusi serta memiliki kontribusi besar dalam persoalan-persoalan masyarakat. Dan bentuknya akan lebih kolaboratif dengan tradisi modern. Mungkin akan seperti itu..
Adakah keinginan atau cita-cita yang belum tercapai ?
Saya dulu bercita-cita menjadi aktor malah menjadi sutradara, saya bercita-cita ingin masuk sanggar malah punya sanggar, ingin maen di Jakarta malah ke Paris, ingin sholat di Mesjid Istiqlah malah sholat di Masjidil Haram. Jadi Tuhan memberikannya kebanyakan, saya sangat senang dan bagaiamana saya tidak bersyukur ? Tapi, Tuhan memberikan amanah yang begitu banyak dengan orang-orang yang tinggal di rumah saya. Kalau keinginan pasti akan selalu bertambah, tapi yang harus dijaga adalah jangan serakah. Saya percaya bahwa dunia ini cukup untuk banyak orang dan tidak cukup untuk satu orang bagi orang yang serakah.
Kesuksesan Anda pasti tidak terlepas dari didikan kedua orang tua yang sangat luar biasa. Nilai dan norma apa yang mereka tanamkan ?
Selain membaca, sebenarnya bapak saya jarang sekali bicara, tapi dia mengajarkan kami yang 16 orang bersaudara ini untuk mengaji. Ibu saya selalu memberikan makan dengan tangannya sekalipun itu sayur. Saya baru sadar bahwa perkataan ibu saya “Ini kamu saya suapin terus, jaga mulutmu ya.. karena di bibirmu ada tanganku”, dan itu menurut saya sangat menarik. Dan bapak saya selalu mengajarkan saya kerja keras dengan tindakannya, karena jarang bicara. Bapak saya adalah pedagang ayam yang perginya pada sore hari dan pulangnya pada pagi hari, beliau bekerja pada malam hari. Dia yang sekarang sudah di syurga pernah mengatakan bahwa dia bekerja seperti para Nabi. Ibu saya mengajarkan untuk berdo’a dan ayah saya mengajarkan saya untuk bekerja.
Siapa sosok pahlawan yang Anda kagumi ?
Saya selalu disalahkan oleh guru-guru saya jika menuliskan sosok pahlawan, karena yang pertama saya tulis adalah ibu saya sebelum menulis yang lain. Kemudian ada kakak saya, tetangga saya, dan guru-guru saya.

...



Comments

Post a Comment

Popular Posts