Feature: Kisah Avif
"Hidup Adalah Kesempatan": Kisah Penyintas Kanker Otak Bertahan Selama 11 Tahun
Foto:
Koleksi pribadi narasumber
“Orang yang sedang merasakan sakit lebih tepatnya secara jasmani
dan memang benar adanya bahwa dia sakit. Mereka cenderung sering mengingat
kematian, banyak mengigau mengenai hari akhir, amanat, ketakutan, dan lainnya.
Bukan! Bukan karena lebay dan ingin cari perhatian. Tapi karena dia semakin
sadar bahwa dirinya masih bertahan hanya karena kehendak-Nya, bahwa nafasnya
sungguh hanya milik Allah. “ - Rosidah Avifah Nurjannah-
Menginjak usia 20 tahun adalah usia untuk mencari jati diri,
bermain dengan teman-teman se-perkuliahan atau se-pekerjaan, dan membingkai
cita dan impian dengan perencanaan yang matang dan berjuang menggapainya dengan
kelancaran. Namun berbeda dengan Rosidah Avifah Nurjannah atau yang sering
dipanggil Avif ini. Sebuah penyakit yang sudah sejak 2008 membersamai
kehidupannya, yaitu Brain Cancer atau Kanker Otak. Semua kegiatan yang
Avif inginkan di usianya itu sebenarnya mampu dia lakukan dengan baik, namun satu
hal yang membuatnya terbatas, yaitu fisik yang lemah.
Berawal dari tahun 2008 tepatnya saat Avif berada di bangku 4
Sekolah Dasar (SD). Saat itu fisik Avif
memang sudah lemah, kejang dan demam yang naik turun. Keluarganya mengira Avif
terkena Deman Berdarah (DBD). Akhirnya Avif dilarikan ke Rumah Sakit dan
diperiksa oleh Dokter dan keadaannya justru baik-baik saja. Namun, seminggu
setelahnya Avif masih demam dan akhirnya mengharuskan dia dirawat di Rumah
Sakit. Saat dirawat, Avif kembali mengalami kejang. Keadaan Avif yang selalu
kejang padahal demamnya tidak terlalu parah justru membuat Dokter
bertanya-tanya. Dokter kemudian mengira ada masalah dengan otaknya. Untuk
memastikan itu, Dokter melakukan tes dengan mengambil cairan sumsum tulang
belakang Avif. Saat mengetahui hasil tesnya, Dokter merasa aneh karena cairan
sumsum tulang belakang Avif keruh. Hasil tersebut membuat Dokter semakin yakin
bahwa ada masalah dengan otak Avif. Kemudian Avif melalukan Tes CT Scan
di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, hasilnya terdapat bayangan gumpalan di
otak Avif. Akhirnya Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin menyarankan
untuk melakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) di Rumah Sakit
Santosa Bandung, saat itulah Dokter mendiagnosa Avif memiliki Tumor Otak.
Masa kecil seorang
Avif, tidak seperti masa kecil anak-anak yang lainnya. Fisik yang lemah
membuatnya sulit untuk bermain, yang ada hanyalah duduk dan berbaring. Namun,
seorang Psikolog yang menangani Avif waktu itu melihat matanya yang berbinar
dan bercahaya justru meyakinkan keluarganya bahwa Avif adalah anak yang sangat
aktif namun fisiknya sajalah yang lemah. Setelah Avif didiagnosa mengalami
Tumor Otak, Dokter menyarankan untuk melakukan operasi. Pihak keluarga Avif
sudah setuju dengan keputusan Dokter. Sebelum melakukan operasi, ada beberapa
pemeriksaan terlebih dahulu. Ternyata saat itu Dokter menemukan ada Kanker Otak
juga di kepala Avif. Posisi Tumor dan Kanker berada di tengah-tengah kepala.
Dan resiko terbesar adalah meninggal di meja operasi. Saat itu, keluarga
memutuskan untuk membatalkan operasi tersebut dengan pertimbangan Avif masih
kecil dan kelaurganya pun sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi. Keluarga ingin memenuhi keinginan Avif yang ingin bertemu dengan
teman-temannya. Avif sekolah seperti biasanya meski tidak intensif. Atas
kehendak-Nya, Avif bertahan sampai kelas lima SD, jauh dari prediksi Dokter.
Dari sanalah keluarganya menyadari bahwa Allah ingin agar hamba-Nya berusaha,
bukan hanya dengan obat. Menginjak kelas lima SD, Avif melakukan terapi juice
di Jakarta, sehingga mengharuskannya bulak-balik Garut-Jakarta. Terapi ini
memberikan hasil yang cukup signifikan, Avif mengalami peningkatan secara
fisik. Avif mulai aktif kembali, bermain, berlari, bersepeda, dan lainnya.
Namun, setiap enam bulan sekali Avif masih sering dirawat.
Saat itu, Avif
masih belum mengetahui penyakit apa yang dideritanya. Dia bertanya kepada
ibunya. “Umii.. Adek sakit apa? Ko panasnya gak berhenti-berhenti?”. Umi
Avif menjawab “Adek ada benjolan di kepala”. Jawaban Umi Avif tidak
membuat puas dirinya. Akhirnya dia mencari tahu sendiri di warnet, dan dia
menemukan kata Kanker. Avif kemudian bertanya kembali kepada Uminya. Dengan
polos dia mengatakan “Umi.. Adek tuh sakit kanker ya? Katanya hidupnya gak
bakal lama lagi”. Umi Avif menangis, hati seorang ibu sedih karena benar
anaknya tak akan hidup lama. Sudah cukup Umi Avif menyembunyikan penyakitnya
selama satu tahun. Akhirnya beliau menjelaskan penyakitnya kepada Avif bahwa
dia menderita Tumor dan Kanker Otak. Seorang anak yang baru kelas lima SD sudah
menanggung pikiran seperti ini. Avif yang kritis dan polos kemudian bertanya
kepada Abi-nya. “Bi.. kalo udah mati tuh bakal kayak gimana”. Abi-nya pun
menjawab “Kalo yang sholeh masuk syurga, kalau nggak yaa masuk neraka.” Avif
bertanya lagi “Kalau mau masuk syurga gimana caranya?”. Abi-nya pun
menjawan “Sholat yang rajin dek, dan ibadah lainnya”. Mendengar
penjelasan Abi-nya, saat itu Avif sangat rajin menjalankan Sholat. Pikirannya
yang sederhana, dia menyadari bahwa dia akan meninggal, dan dia ingin masuk
syurga, makanya dia harus rajin sholat. Anak seusianya yang lain mungkin
memikirkan bermain, namun seorang Avif mengharuskannya memikirkan tentang
kematiannya dan apa saja yang ingin dilakukan dan dicapainya sebelum dia
meninggal. Selama perjalanan pengobatannya, menginjak kelas enam SD, kaki kiri
Avif susah digerakkan. Kedua orang tuanya sudah mengetahui bahwa jika Avif
bertahan, maka dia akan kehilangan fungsi motoriknya satu persatu.
Masa SD sudah Avif
lewati, beranjak ke masa SMP yang tadinya keluarga hanya menitipkan Avif untuk
sekadar bermain dan tidak dituntut untuk belajar dengan keras, ternyata justru
Avif menemukan jati dirinya. Dimulai dari masuk Organisasi Siswa Intra Sekolah
(OSIS), Avif mempunyai banyak teman dan sangat suka berbicara di depan umum.
Para Guru menilai Avif memang pintar secara akademik maupun akademik. Avif
memiliki prestasi di bidang sastra seperti menjuarai lomba puisi. Para Guru
justru sangat tidak setuju jika Avif didiamkan begitu saja, mereka tahu bahwa
Avif mampu untuk maju. Akhirnya keluarga dan Psikolog mendukung. Sebelumnya
Avif hanya memikirkan tentang ibadah saja sebelum ajal menjemput dia. Namun
saat SMP, Avif menemukan kenyamanan lain. Betapa senang saat berbicara di depan
umum, diperhatikan orang banyak, Avif menyadari bahwa ada hal yang bisa dia
lakukan untuk ditunjukkan kepada orang lain. Dia juga menyadari bahwa semua
orang pasti akan mati, kapanpun itu. Tinggal dia memanfaatkan waktu yang
tersisa ini untuk berkarya. SMP kelas 8 Avif mulai menemukan karakternya, dia
sangat senang berpidato dan orasi. Namun masih selalu dirawat di Rumah Sakit
karena sering pingsan. Saat menginjak kelas 9 SMP, Avif sempat lumpuh kaki dan
tangan kirinya (lumpuh sebelah). Selain lumpuh sebelah, Avif mengalami
komplikasi penyakit, selain Tumor dan Kanker, dia mengidap Maag, Jantung, dan
kerusakan di telinga kiri yang mengharuskan dia memakai alat pendengar. Masa
SMP adalah masa dimana Avif sudah tidak memikirkan kematian dan berbagai
persiapannya, namun masa dimana dia sudah menentukan ingin menjadi apa dia di
masa depan nanti.
Kelumpuhan yang
terjadi pada Avif mengakibatkan saraf-sarafnya terganggu. Dokter kembali
menyarankan untuk operasi. Namun Avif menolaknya karena dia berpikir jika dia
dioperasi kemungkinan besar akan meninggal dan impiannya cukup sampai di sana
saja. Jika menunda untuk dioperasi maka kesempatan untuk menggapai cita-citanya
masih ada walaupun harus selalu pingsan, setidaknya Avif masih bisa berjalan.
Karena Avif ingin memberikan manfaat bagi orang banyak, Avif ingin orang lain
mengenang namanya dan tahu akan karya-karyanya jika dia sudah tiada nanti.
MAN 1 Garut,
sekolah sekaligus tempat perjuangan Avif berikutnya. Avif sudah banyak
mengikuti dan aktif berbagai organisasi dan komunitas. Di antaranya Forum
Silaturahmi OSIS Se-Garut Timur, Yayasan Kanker Indonesia, Komunitas Cinta
Baca, dan Sastrawan Garut. Avif mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang
lain yaitu dikasihani termasuk oleh keluarganya sendiri yang hanya
menitipkannya ke sekolah untuk bermain, tak masalah jika tidak naik kelas dan
di anak bawangkan. Avif tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti itu.
Faktanya, Avif mampu bersaing di sekolahnya, akademiknya lagi-lagi bagus
dan sangat layak untuk naik kelas. Avif
tidak ingin teman-temannya menyayanginya hanya karena kasihan. Meskipun itu
suatu kewajaran secara umum. Perasaan itu membawa Avif pada keputusan untuk
melakukan operasi saja. Avif meminta kepada Dokternya yang sudah dia anggap
sebagai sahabat sendirinya itu untuk melakukan operasi. Dokter kembali
menjelaskan resikonya bahwa hasilnya 50% dan 50%. Avif menegaskan kepada Dokter
bahkan dia bahkan sudah siap dari SD Allah cabut nyawanya. Keluarganya tidak
bisa menentang keinginannya karena Avif memang sudah dewasa, sudah bisa
memutuskan perkara sendiri.
Pada tanggal 11
Maret tahun 2016 tepatnya kelas 11, Avif melakukan operasi pertama. dan kondisi
Avif dalam keadaan sehat. Avif merasa keputusannya ini adalah tepat, inilah
saatnya dia mencoba. Tidak ada rasa takut sedikit pun dan siap untuk resiko
terburuknya. Namun ada satu hal yang Avif merasa belum sempat dia lakukan yaitu
membahagiakan kedua orang tuanya. Avif merasa berat meninggalkan kedua orang
tuanya, khususnya Uminya. Akhirnya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada
Avif atas apa yang belum sempat ia lakukan untuk orang tuanya itu. Operasi
pertama berhasil dan nyawanya selamat. Namun Avif mengalami trauma pasca
operasi sehingga memory nya sulit mengingat nama orang dan kejadian. Kanker
yang ada dalam otak Avif tidak sepenuhnya diambil karena posisinya yang
menempel pada batang otak dikhawatirkan jika diambil akan sangat berbahaya.
Hingga akhirnya
Avif kini sudah mulai dewasa dan berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Garut. Ranah perkuliahan sangat membentuk minat dan bakat dirinya.
Hingga Avif banyak menngikuti kepanitiaan dalam acara-acara yang besar.
Terlebih Avif sudah memiliki sahabat yang ia jadikan tempat curhat. Semakin
dewasa maka semakin banyak pula pikiran yang memadati otaknya. Dari mulai
perkuliahan, Avif ingin pintar dan berprestasi di kampusnya, dan itu berhasil
ia realisasikan dengan giat belajar dan berlatih. Sempat ada konflik dalam
persahabatannya yang membuat ia justru menjadi beban pikirannya dan
menjadikannya selalu pingsan ditambah penyakit asma yang kini dideritanya. Rasa
kesal dan amarah lah yang membuat kanker dan tumor di otaknya justru semakin
membesar. Hingga pada tanggal 20 Maret tahun 2018 tepatnya saat Avif akan
baranjak ke tingkat 2 perkuliahan, kondisi Avif justru semakin memburuk.
Lagi-lagi Dokter menyarankan untuk operasi. Bedanya, saat operasi pertama Avif
siap untuk meninggal. Namun saat itu Avif tidak siap dengan operasi kedua, karena
belum sepenuhnya membahagiakan kedua orang tuanya dan saat itu adalah puncak
Avif untuk berprestasi dan memuaskan bakatnya. Avif merasa operasi kedua ini
semakin mendekatkannya kepada kematian. Sebelum Avif operasi, dia ingin bertemu
dengan orang yang saat itu sangat ingin dia temui, Avif juga sempat membuat
beberapa tulisan berisi perpisahannya untuk orang-orang yang disayangi.
Khususnya untuk Uminya, Avif sangat menyayangi dan dekat sekali dengan Uminya.
Avif banyak menitipkan Uminya ke orang-orang terdekatnya. Setidaknya ada yang
menggantikan dirinya walaupun hati tidak siap melepaskannya. Intinya Avif tidak
siap untuk meninggalkan kedua orang tuanya.
Tuhan sangat
menyayangi Avif, sangat.. Karenanya Tuhan masih memberikan kehidupan kepadanya,
operasi kedua berhasil. 90% kanker dan tumornya terangkat. Namun Avif harus
menjalani rehab medis karena sebelum operasi dia dalam kondisi tidak baik. Avif
harus menjalani Sinar Radiasi sebanyak 25 kali untuk mengatasi sisa dari tumor
dan kankernya. Walaupun begitu efek dari Sinar Radiasi lebih membuatnya lemah
karena memengaruhi sistem imunitas Avif.
Saat ini Avif
masih terbaring dan ke depannya jika Tuhan menghendaki, dia akan berusaha
membahagiakan kedua orang tuanya sebelum meninggal nanti. Dokter menyatakan
kondisi pengidap kanker dan Tumor jarang yang bertahan seperti Avif, bisa
menjalani dua kali operasi merupakan keajaiban dari Tuhan. Salah satu impian
terbesarnya adalah ingin Uminya ada di panggung saat dia diwisuda nanti karena
prestasinya. Banyak hal yang membuat Avif bertahan, pertama adalah semangat
keluarga, kedua lebih mengetahui mana orang yang tulus padanya dan yang akan
aku banggakan juga nanti, ketiga Avif ingin menjadi berbagi cerita dengan
sahabat-sahabatnya hingga nanti sahabat-sahabatnya menceritakannya kepada
anak-anaknya, dan keempat Avif berpikir Tuhan pasti mempunyai tujuan mengapa
dia diberikan sakit.
“Denyutan dalam kepalaku aku anggap sebagai belaian dari Tuhan,
salah satu caraku berkomunikasi dengan-Nya melalui dzikir, dan aku merasa
sangat dekat dengan-Nya. Teruntuk bagi orang yang sehat. bukan bahagia yang
membuatmu syukur, tapi syukur yang membuatmu bahagia. Hal sepele pun jika kita
tidak bersyukur maka tidak akan istimewa. Namun jika bersyukur, maka itu sangat
luar biasa. Dan teruntuk teman sesame penginap cancer, Tuhan memberika
kekuatan yang berbeda untuk kita. Kita pasti menjadi kebanggaan bagi
orang-orang tertentu. Dulu aku berpikir aku adalah beban, namun saat ini aku
merasa mereka bangga dengan adanya kita.” Pesan Avif diakhir wawancara saat
ditemui di kediamannya di Karangpawitan, Garut.
[Avif adalah sahabatku. Siapapun yang membaca tulisan ini mohon do'a untuk kesembuhan avif agar bisa beraktivitas normal seperti yang lainnya. Tujuan saya menulis ini tidak lain adalah untuk mengumpulkan do'a dari para pembaca. Karena kita tidak tau do'a siapa yang akan diijabah oleh Allah SWT. Semoga kita juga senantiasa tetap bersyukur atas kesempatan dan kenikmatan yang Allah beri. Karena Avif, aku tersadarkan bahwa untuk apa hidup jika hanya mengeluh. Toh avif aja yang diuji berat oleh Allah tidak mengeluh dengan penyakitnya. Malu aku.. Sungguh. Terima kasih avif sudah mau berbagi cerita perjuanganmu denganku dan dengan mereka. Apapun yang terjadi padamu di masa depan nanti Insyaallah adalah yang terbaik menurut Allah]
We Love You Avif <3
Comments
Post a Comment