Wawancara Ketua Organisasi atau Himpunan


PL 1/Rep/2018                                                                                               Mia Helmiyani
                                                                                                                      
Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Arab, Rizki Aditya:






R
     Mahasiswa Apapun, Mesti Melek Politik
 

 Foto: Annisa Hoerul



izki Aditya, 21 tahun, berpenampilan sederhana namun rapi saat didatangi di Sekre Himpunan Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Rabu, 18 April 2018. Dengan kemeja dan ransel yang tidak ia lepas-lepas dari pundaknya, memang jarang sekali untuk tersenyum.
Sejak tahun 2015, cara kepemimpinannya sangatlah tegas dibanding kepentingan setelahnya. Ia banyak menyelesaikan masalah dengan penuh keberanian. Ranah perkuliahan menjadi ajang pendewasaan untuk menumbuhkan banyak relasi secara internal maupun eksternal.
Pada tahun ini, Rizki menjadi penggagas Program Kunjungan 50 Kontingen ke Kementeriaan Luar Negeri.  Usahanya ini patut diacungi jempol oleh     pihak Fakultas bahkan Universitas. “Dunia perpolitikan itu sangat penting bagi Mahasiswa”, ujarnya.
Selama empat puluh menit, dia menjawab 23 pertanyaan. Tak da jawaban yang ditutupi, ia anteng dengan topik yang diberikan. Tanya-jawab berlangsung singkat namun cukup padat.


Apa visi dan Misi HIMASA Unpad ?
Visi dan Misi HIMASA adalah menjunjung tinggi kekeluargaan internal maupun eksternal HIMASA, menciptakan wadah bagi mahasiswa/i HIMASA, dan menciptakan SDM (Sumber Daya Manusia) yg berkualitas bagi HIMASA.
Apa saja Program Kerja Internal yang paling besar HIMASA Unpad 2015 ? Adakah Program Eksternal ?
Kebetulan kalau Arab Fest diadakan setiap 2 taun sekali, tahun ini kita break kemudian ada lagi tahun depan. Program yang besar paling Reuni Akbar, pelepasan kontingen untuk para atlet himasa, visit ke kementerian luar negeri dan kedubes dengan kuota 50 Mahasiswa/I yang kemudian akan diselesksi terlebih dahulu. Di sana kami akan mendapatkan audiensi langsung dari Kemenlu (Kementerian Luar Negeri) dan juga Duta Besarnya langsung.
Apa yang membedakan HIMASA dengan Himpunan yang lain Di FIB ?
Dari prestasinya Alhamdulillah sudah terlihat diluar, menjuarai lomba-lomba eksternal seperti Pidato B.Arab, Stand Up B. Arab, dan Juara umum pada Olimpiade FIB 2017.
Seorang pemimpin luas akan relasi baik internal maupun eksternal. Apakah Anda aktif di kegiatan ekstra kampus ?
Iya, kalau eksternal sih saya lebih aktif di komunitas kota sendiri, seperti Komunitas Mahasiswa Bogor. Internal-nya kemarin-kemarin saya mengikuti Fotografi Unpad, panitia Forsi juga.
Apa kontribusi yang lebih siginifikan dari HIMASA Unpad 2015 bagi para mahasiswa Sastra Arab ?
Kami kan lembaga kemahasiswaan ya, jadi kami mewadahi seluruh Mahasiswa/I Sastra Arab baik di bidang akademik maupun non akademik, khusunya di minat bakat. Kontribusi kami secara internal yaitu mengadakan acara-acara seperti pelepasan kontingen, memfasilitasi.
Bagaimana eksistensi HIMASA Unpad dalam media sosial ?            
            Setiap Himpunan pasti memiliki media sosialnya masing-masing ya, kami juga ada seperti Instagram, Twitter, Line. Alhamdulillah ketita kami menyebarkan informasi pasti banyak respon dari Mahasiswa/I Sastra Arab maupun alumni.
Apa Definisi “Pemimpin atau Ketua’ dalam kaca mata Anda  ?
Ketua ini tentunya seorang leader yang mengayomi para teman-temannya yang akan mengoreksi mereka apabila salah. Pemimpin harus mempunyai pengalaman, karena tanpa pengalaman seorang leader itu ibarat jalan tapi tidak tau arah.
Seberapa pentingkah Mahasiswa harus mengetahui ranah perpolitikan ?
Setiap Mahasiswa pasti ada yang beranggapan itu penting atau sebaliknya. Tapi bagi saya itu penting, karena peran Mahasiswa sangat dibutuhkan dalam perpolitikan, apalagi sekarang sudah mendekati Pilgub Jabar, bagaimana nantinya seorang Pilgub Jabar dapat membuat atau mengubah Jawa Barat semakin lebih baik lagi.
Kritis kah Mahasiswa sekarang dalam mengetahui informasi politik ?
Realitasnya, kalau menurut saya cukup kritis. Karena dalam Pilgub Jabar seperti dalam keluarga HIMASA itu ada yang mencalonkan ayahnya sebagai calon wakil Gubernur. Itu suatu penghargaan bagi kami, dan kami harus mendukungnya, apalagi anaknya merupakan Mahasiswa Sastra Arab.
Di Sastra Arab terdapat mata kuliah Geo Golitik. Apa yang dipelajari ?
Iya ada, yang dipelajari adalah politik khusus di Timur Tengah saja.
Bagaimana aplikasi yang Anda lakukan dari Mata Kuliah tersebut ?
Dari Geo Politik, saya dapat memahami bahwa ternyata politik yang ada di Timur Tengah itu lebih baik dari pada yang lain. Kalau masalah aplikasinya, saya kurang mengaplikasikannya. Mungkin karena itu khusus area Timur Tengah.



Menjelang Pilgub Jabar  2018, dari empat bakal pasangan calon, sudahkah Anda menyiapkan pilihan ? Siapa pilihan Anda ?
Sampai saat ini sih saya belum menentukan pilihan yang tepat, namun saya mempunyai pilihan antara Ridwan Kamil sama Syaikhu.
Alasannya ?                                                
Untuk Ridwan Kamil karena eksistensinya dalam masyarakat sangat tinggi, dia cukup bagus. Kedua, untuk Syaikhu alasannya karena anaknya ada di Sastra Arab.
Haruskah yang diutamakan adalah kesan religius ?
Kalau yang saya lihat sih sangat penting ya, tapi ada orang-orang yang beranggapan bahwa di religius hanya dalam konteks Pilkada saja atau pada situasi tertentu. Jadi harusnya, kesan religius tidak hanya dalam Pilkada saja.
Jika terpilih, apa harapan Anda terhadap keduanya ?
Harapan saya, kepada calon Gubernur yang terpilih supaya lebih mengeksiskan lagi Jawa Barat tentunya, lebih mensejahterakan Jawa Barat, juga lebih mengenalkan Jawa Barat kepada Dunia.
Pengusung pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzanul Ulum lebih banyak dari pasangan yang lain. Apakah itu menjadi indikator keberhasilan mereka ?
Kalau berkaca dari pengusung partai, menurut saya itu berpengaruh cuman tidak terlalu berpengaruh. Tapi, kembali lagi kepada calon itu sendiri, kalaupun tanpa partai tapi masyarakat pro ke dia ya pasti didukung. Tapi untuk Ridwan Kamil dan Uu karena pengusungnya banyak, pasti kadernya juga banyak, dan itu bisa jadi berpotensi.
Apakah Anda berkeinginan untuk terjun dalam dunia politik ?
            Jujur saja, masih pikir-pikir. Pertama karena pengalaman saya masih kurang pengalaman. Tapi niatan untuk terjun ada, karena ingin berpengalaman juga dalam dunia politik, memimpin, dan ingin lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat.
Adakah Negara yang ingin dikunjungi ?
Pertama pasti Arab Saudi, Madinah. Kedua Qatar. Bukan untuk study atau mencari pekerjaan, tapi hanya berkunjung saja.
Sudah sejauh mana Anda mengikuti kondisi peperangan yang terjadi antara negara-negara Muslim seperti Palestina dengan Israel, Jerman dan Suriah ?
Keadaan yang ada di Timur Tengah sekarang, sebagai Mahasiswa Sastra Arab pasti tahu. Saya mengikutinya tidak dari awal, tapi hanya melalui berita-berita saja, diskusi dengan teman-teman, adanya aksi bela Palestina sebagai tindakannya.
Bagaimana perlindungan para ulama sekarang ? Apakah masih mengkhawatirkan ?
Terkait penganiayaan terhadap ulama, isunya juga sempat ada di Bogor. Sekarang, kasus seperti itu sudah berkurang, tapi ulama harus selalu waspada, karena kasusnya tidak pandang bulu, artinya dapat menimpa ulama siapapun.
Apa dampak aksi 212 ? Bahkan dengan segera akan ditayangkan Film Layar Lebar “The Power of Love”  yang merujuk pada aksi tersebut ?
Dampaknya sangat besar, apalagi untuk memperlihatkan bahwa kekuatan umat muslim di Indonesia itu sangat besar. Dengan ditayangkan film tersebut, mungkin dapat mengenang kejadian 212 dan dapat membuka lembaran baru. Itu berarti banyak orang yang menerima aksi 212 tersebut sehingga sampai dijadikan film.
Apa tindakan Anda terhadap Islam yang sudah kehilangan identitas  atau mengalami kiris identitas ?
Selaku mahasiswa biasa, saya tidak bisa bertindak lebih konkret, secara detail langsung ke lapangan. Karena kan itu urusan pribadinya, tapi ketika seorang muslim telah kehilangan identitas dirinya itu sangat disayangkan, apalagi bagi seorang muslimah. Seperti karena ingin jadi artis, melepaskan hijabnya. Dia mungkin hanya melihat kepentingan duniawinya saja, tidak akhiratnya. Dan nilai-nilai keagamaan yang ia miliki mungkin kurang. Ini jadi PR bagi para umat muslim dalam mendakwahkan Islam.
Apa harapan Anda bagi terwujudnya perdamaian Indonesia ?
Harapan saya selaku Mahasiswa, sebenarnya di Indonesia itu damai-damai saja. Tetapi menjadi tidak damai mungkin karena adanya politik. Karena politik itu sangat sensitif, apapun akan dilaksanakan demi kekuasaan. Tapi, semoga para pemimpin dapat adil, bijak, dan jujur terhadap rakyat.



Lampiran 
 
 Foto: Annisa Hoerul
              Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (HIMASA) FIB Unpad, Rizki Aditya saat diwawancarai oleh Mia Helmiyani di Sekre Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang (18/04/2018)
                                                                                                                           
Nama Lengkap : Rizki Aditya
Alamat : Jl. Desa Nagrak, rt 07 rw 06, kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor          
Ponsel: 081221045709 
Pos-el: rizkingaditya@gmail.com











Comments

Popular Posts