"Menjadi orang yang PEKA"


Peka yang saya maksudkan adalah peka terhadap keadaan orang lain. Atau mungkin bisa diartikan dengan mudah mengerti dan merasakan keadaan orang lain, meskipun orang itu tidak meminta atau memberitahu dirimu. Menjadi orang yang peka ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya kamu mendekati label orang baik, karena kamu sudah tahu apa yang seharusnya kamu lakukan, untuk realisasinya itu pilihan. Ada yang hanya peka tapi tidak merealisasikannya. Contohnya, kamu tahu dia sedang bersedih dan butuh bantuanmu, tapi kamu malah membiarkannya. Hak peka berguna di sini. Peka menjadikan kamu orang yang senang untuk menolong. 

Namun pernah tidak kamu merasakan balasan atas sifat kepekaan kamu adalah "sakit hati". Pada akhirnya seseorang itu menjadi selalu bergantung pada bantuanmu, dan tidak ingin berusaha apapun untuk menyelesaikan pekerjaan atau kesedihannya. Seoalah-olah kamu hanya dimanfaatkan oleh sesorang itu. Sisi lain, kamu selalu ada saat dia membutuhkan, tapi tidak sebaliknya. Parahnya, karena keenakan, dia lupa untuk berterima kasih, sibuk dengan urusannya sendiri, egois, ambis, dan lain sebagainya. Jujur saja, pasti kamu merasa terganggu dengan hal ini bukan? Kamu bingung bagaimana peka kamu bisa terus bertahan dengan orang seperti itu.

Manusia itu pada hakikatnya mampu untuk berikhtiar dan berfikir. Cobalah untuk mengobrol secara halus, bahwa saya tidak selamanya ada di sampingmu. Selama kamu bisa melakukan pekerjaan atau menyelesaikan masalahmu sendiri, maka cobalah. Dan jika tidak, dan saya tidak ada di sampingmu saat itu, jangan salahkan saya, bukan saya tidak mau dan tidak ingin membantu, tapi saya mempunyai kesibukan saya sendiri. 

Sebenarnya, kata-kata itu saya tidak anjurkan, tapi karena saya pernah merasakannya, mungkin bisa jadi solusi. Saat itu saya mencobanya dengan cara halus, tapi hasil tetap saja. Dan saya coba dengan cara kasar, yaitu tidak meresponnya dan tidak berbicara dengannya. Dan hasilnya!! Yang didapat adalah air mata, banyak sindiran yang membuat hati saya benar-benar sakit saat itu, yaa meskipun hanya dalam status-statusnya saja. Yang membuat saya sangat tercabik dan bahkan bertindak sesuatu yang dibenci oleh Allah, yaitu "Membencinya". Karena dia menyalahkan Hijab saya. Dia membandingkan sikap saya dengan Hijab yang saya pakai. Mungkin di sini saya tegaskan padanya, bahwa Hijab saya bukan karena dia, tapi karena Allah. Banyak omongan kasar yang saya dapat. Saya pikir orang seperti itu tidak punya rasa malu. Parahnya, dia tidak mengerti dan tidak ingin mengakui kesalahannya. Akhirnya saya membiarkannya dan meminta maaf kepadanya. Jangan malu untuk meminta maaf, meskipun kamu tidak bersalah kepadanya, tapi ingat, takutlah kepada Allah, merasa bersalahlah di hadapan Allah. Dan semua akan baik-baik saja. Percayalah.. 

Jadi, bukan sifat Peka-nya yang salah. Tetapi bagaimana orang yang memaknainya. Hidup itu adalah pilihan bukan? Lebih dekatlah dengan Allah, Dia pasti menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Dia pasti memberikan kekuatan kepada hamba-Nya yang memohon dengan ikhlas dan penuh rasa takut. Satu hal lagi, "Jangan Membencinya"... dan teruslah menolong orang lain, pekalah terhadap orang lain semampumu..

Comments

Popular Posts