Ruang Impian 314
Kusematkan
ribuan do’a. Kuhiasi setiap dindingnya dengan berjuta arah motivasi. Setiap
sudut kulukis dengan bermacam warna senada. Seringkali ada badai menggoyahkan
tiang penyangga, ataupun sosok yang merusak sisi dalam yang sudah susah payah
kubuat, sempat retak memudarkan warna. Mengharuskan jiwa tergerak untuk memperbaiki,
tak mudah, padahal jelas segala perkakas
tersedia. Setiap perkakas digunakan sesuai aturan, lagi-lagi ikhtiar untuk
memahami-lah yang menentukan waktu cepat atau lambat kerusakan itu kembali
seperti semula bahkan lebih indah. Di sinilah, Alam yang sedang kupijaki sampai
waktunya pintu ini terbuka mengantarkanku pada pijakan terakhir, kepada Sang
Pemerhati Terbaik, yang menentukan layakkah aku menyusuri jalan menuju ruang
bernama “Syurga” yang kudambakan.
***
Jika
bukan dengan Beasiswa belum tentu aku bisa kuliah di Program Studi Jurnalistik,
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Karena keluargaku terkendala
biaya, Bapak kerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, keempat orang
kakakku pun tidak sanggup menguliahkan diriku, gaji mereka dipakai untuk
kebutuhan rumah tangga ditambah adikku yang sebentar lagi akan masuk Madrasah Aliyah.
Namun keinginanku untuk kuliah sangat besar, “Pokoknya aku harus kuliah
titik!”. Kalimat yang sering aku ucapkan ketika ada orang yang menanyakan “Mi,
setelah lulus MA mau kuliah? Kerja? Atau Nikah?. Akhirnya Allah memberikan
jalan dan terbukalah pintu kesempatan untuk kuliah melalui Beasiswa Bidikmisi. Menjadi
anak ke-lima dari enam bersaudara yang baru satu-satunya kuliah di keluargaku. Saat
pengumuman SNMPTN keluar, semua teman-temanku berkumpul di ruang BK sekolah untuk
membuka hasil SNMPTN mereka. Sedang aku menunggu di luar karena merasa tegang
dan takut untuk melihat hasilnya. Saat semua temanku selesai satu persatu
keluar ruangan, ada yang keluar dengan wajah girang dan ada juga yang keluar
dengan wajah murung bahkan teriak dan menangis. Teman sebelahku berkata “Mi,,
cepat buka hasil SNMPTN kamu!”. Tetiba telapak tanganku keluar keringat sangat
banyak di setiap pori-pori karena tegang. Aku menjawab “Sungguh aku takut, tapi
aku harus lulus, harus”. Aku mengumpulkan keberaniaan terlebih dahulu karena
apapun hasilnya aku harus siap. Saking pengen kuliahnya aku sudah merencanakan
cara lain jika di Unpad aku tidak lulus. Dengan gemetar aku membuka hasil
SNMPTNku. Daaannn…Jreeenggg Alhamdulillah aku dinyatakan “LULUS” Program
Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Aku
memeluk teman disebelahku dan aku tak sabar ingin segera memberitahu keluarga
di rumah. Guru dan teman-temanku memberikan selamat kepadaku. Saat perjalanan
pulang, turun dari angkot aku berlari menuju rumah dengan wajah riang gembira,
jaraknya lumayan jauh, aku berlari kencang karena tak sabar ingin mengetahui
reaksi Mamah dan Bapak. Sesampainya di rumah, aku langsung menghadap Mamah dan berkata “Mah… Mia lulus Mah.. Mia lulus
ke Unpad!!”. Mata mamah terlihat berkaca-kaca dan berkata “Alhamdulillah Ya
Allah… kita tinggal memikirkan ke depannya”. Kebetulan saat itu Bapak sedang
tidak ada di rumah. Baru keesokan harinya Bapak pulang dan segera aku
memberitahunya. Awalnya Bapak tidak percaya saat aku bilang aku lulus ke Unpad.
Namun saat Mamah menjelaskan semuanya, tanpa panjang lebar Bapak hanya berkata
“Selamat..! Alhamdulillah…(sambil menyodorkan tangan seperti pernyataan deal
seperti kalo orang yang mau kerja sama bisnis).
Momen haru adalah saat acara Open House di Unpad, saat itu aku ditemani oleh Bapak. Sepanjang perjalanan tak hentinya Bapak mengatakan “Bapak tidak menyangka..Bapak tidak menyangka, Waahh luas yaahh Unpad teh. Sampe pusing nyari Fikom yang dimana wkwk”. Harus aku katakan bahwa penampilan Bapak sangat sangat sederhana dibandingkan para orang tua yang lainnya. Dan pada saat itu ada insiden yang membuat aku terharu, SENDAL BAPAK COPOT SEBELAH !. Dan kejadian itu cukup menghibur bagi kami. Aku masih ingat bahwa hari itu bertepatan dengan ulang tahun Bapak yang ke-57, kado yang bisa aku berikan hari itu adalah mengajak Bapak untuk pertama kalinya ke Unpad. Masyaallah, aku melihat wajah Bapak penuh syukur..
![]() |
| Foto ini diambil pada tanggal 18 Agustus 2018 saat Open House di Fikom Unpad |
Kebersyukuran
yang berlebih pula di semester 3 aku Allah tempatkan di Rumah Layanan Ummat
Kader Surau Unpad Putri, sebuah rumah yang telah banyak mengubah hidupku,
mempercantik ruang impianku. Dipertemukan dengan sesosok perempuan bergelar
Pembina di rumah itu, sesosok istri dan calon ibu 3 anak, yang berhasil mendobrak
tembok kemanjaan diriku, dan mengencangkan senjata impianku. Karina Hakman atau
yang sering kupanggil “Teh Karin” , adalah seorang mudarrisah di rumah itu.
Kader
Surau adalah wadah untuk aku mengenal lebih banyak tentang Islam. Karena selama
2 semester ke belakang meski aku lulusan MA, ilmuku tentang Islam masih sangat
standar. Khususnya dalam cara berpakaian yang benar bagi seorang muslimah dan
bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis yang belum halal bagiku. Terlebih
untuk lebih dekat dengan pedoman yang sampai sekarang kujadikan sahabat
terdekatku, yang dulu aku sangat jauh darinya, membiarkannya berdebu, benar..”
Al-quran”. Sekarang, mukjizat ini menjadi barang bawaan wajib ke manapun aku
pergi. Karenanya aku pajang dengan indah cita mulia yang akan kupersembahkan
untuk Bapak dan Mamah, “Ya Allah, aku ingin menjadi seorang Hafidzah”. Dan aku katakan
bahwa aku telah Jatuh Cinta padanya.. Kecintaan ini aku luapkan dalam sebuah
puisi (ada di postinganku sebelumnya).
Kenal,
Dekat, lalu Jatuh Cinta
Karya: Mia
Helmiyani
Sebuah kenikmatan yang teramat
Inilah romantisme yang sedang kurajut
Merindu selalu, menjadi candu
Kiat ucap menyemangati hari
Aku cinta, sungguh..
Mengapa terlambat ?
Mengapa baru kurasa dan jiwa meluluh
Setelah bodoh dan payah yang hakiki
Acuh, hanya sekejap dalam dekapan
Selintas mencintainya hanya dalam satu bulan
Debu menebal, dalam deretan
wadah terbawah
Terbuai oleh cinta yang lain
Telah lama aku mengenalnya
Ia mendekat, bahkan tak berjarak sedikitpun
Kukecup dengan malu pada penciptanya
Hingga tetes penyesalan menyesakkan
Terlebih,
Didekatnya begitu menenangkan
Aku jatuh cinta, sangat…
Al-quran Al-Kariim
***
Ada sebuah
cita yang ingin kucapai yang dulu hanya bisa kuucapkan dan kutulis dalam ruang
impian, “Aku ingin pergi ke luar negeri… “. Keinginan ini memuncak saat aku
berada di Kader Surau. Sebuah kisah singkat namun perjuangannya panjang, diuji dengan sebuah
kegagalan. Ini ceritaku…
Ada
sebuah skenario indah yang Allah berikan tentang perjalananku menembus cita
untuk bisa pergi ke luar negeri. Sebanyak 13 orang dari Kader Surau Unpad
angkatan 3 termasuk aku lolos seleksi dan mendapat LOA untuk menghadiri
Konferensi yang diselenggaran oleh World
Bank Youth Summit 2018: Unleashing The Power Of Human Capital di Washington
DC pada tanggal 3-4 Desember 2018. Berita aku mendapat LOA itu aktual pada
tanggal 25 Oktober 2018. Spontan aku sujud syukur, menangis, dan mengabari
keluarga yang ada di rumah. Bayangan suasana luar negeri, bangunan-bangunan
yang indah bersejarah, salju, naik pesawat, dan segalanya yang berbau luar
negeri sudah merajalela di pikiranku. Saat itu, rasa senang mendominasi jiwaku dan
tidak terbesit tantangan-tantangan yang sudah menunggu di depan sana. Bapak
selalu berkata bahwa “Hidup Adalah Sebuah Kesempatan”. Dan ini adalah
kesempatan yang Allah berikan untuk mewujudkan citaku pergi ke luar negeri.
Singkat
cerita, tibalah saat dimana aku dan teman-teman harus gencar mencari dana
kepada sponsor dan donatur. Allah, untuk pertama kalinya i feel betapa susahnya FUNDRISING!! Terhitung akhir bulan Oktober hingga November
kami mencari dana ke perusahaan, lembaga zakat, dinas pemerintahan, dan lain
sebagainya. Banyak perusahaan yang menolak dengan alasan MENDADAK. Oke, i
know karena akhir tahun perusahaan-perusahaan sudah waktunya tutup buku. Tapi,
aku tak mau berhenti tanpa hasil begitu saja, aku ingin tetap berusaha mencari,
bernegosiasi, dan berdiskusi menyebar proposal “Zero to Hero: Self
Development” begitu tertera dalam cover.
Alhamdulillah, melalui donasi via
web aku dan sebagian teman-teman mendapatkan dana meski nominalnya masih jauh
dari yang ditargetkan. You know targetnya
berapa? Satu orang yaitu kurang lebih 31 juta. Mungkin sebagian
perusahaan ada yang kaget dengan besarnya nominal tersebut, lalu diajukan di
akhir tahun. Laa haulaa walaa quwwata illa billah. Apapun keputusannya
tawakal nomor satu.
Pagi
hari, diadakan rapat besama (ikhwan akhwat) untuk mempersiapkan dana
keberangkatan. Sejujurnya persentase keberangkatan dalam diriku menurun
drastis. Aku belum mempunyai pegangan uang yang cukup. Aku melihat wajah
teman-temanku yang lain sudah tidak meyakinkan, begitupun denganku begitu
banyak keraguan dan ketakutan mencegahku untuk optimis. Semangat melemah bahkan
terbesit untuk menyerah. Hingga pada akhirnya aku memikirkan kembali tentang
citaku, keluargaku, dan kalimat pembangun semangat dari Kang Supri (Mudarris
Ikhwan dan Suami Teh Karin) menumbuhkan kembali tekadku. Hingga akhirnya aku
memutuskan untuk berikhtiar kembali dan meminta perpanjangan waktu untuk
mencari dana. Semuanya saling memberikan semangat dan menguatkan satu sama
lain.
Kebetulan
pada hari itu pula Alhamdulillah aku dan Afidah (akhwat Kader Surau yang se
daerah denganku) mendapatkan dana dari salah satu lembaga zakat masing-masing
sebesar 1 juta. Ini membuat semangatku kembali berkobar untuk tetap berusaha
mencari dana ke beberapa perusahaan yang tersisa dan masih bisa aku jangkau. Aku
memutar otak saat Afidah bertanya “Apakah kamu akan membayar visa hari ini?,
soalnya kita harus sesegera mungkin karena tanggal keberangkatan sudah dekat
dan kita belum wawancara di Embassy, Jakarta.” Sungguh aku kebingungan, uang
untuk membayar visa Amerika sebesar 2,4 juta. Kuputuskan untuk menguras uang
tabunganku di ATM kurang lebih ada 1,5 juta, dan 1 juta dari lembaga zakat, itu
cukup untuk membayar visa. Akhirnya hari itu aku bergegas ke Garut yang rencananya
untuk menghabiskan tenaga dan waktu yang tersisa untuk menyebar proposal namun
kuputuskan sekalian saja membayar visa.
Suatu
malam, Teh Karin meminta semua akhwat berkumpul untuk membicarakan sesuatu,
entah kenapa aku merasa tegang. Aku yang hampir saja terlelap tidur bergegas
turun ke lantai bawah. Ternyata alasan kami dikumpulkan malam itu adalah untuk
memutuskan siapa saja yang akan berangkat. Suasana sangat mengaharukan saat Teh
Karin berkata “Maaf teteh kumpulkan malam-malam, karena ini sangat urgent.. Teteh,
Kang Supri, dan pihak Beasiswa sudah berdiskusi. Kita harus memutuskan dengan
segera siapa saja yang akan berangkat sehingga diperoleh kepastian dana yang
akan diberikan. Setelah kami pikir-pikir di antara kalian ada dua orang yang
sudah membayar visa yaitu Afidah dan Mia. Karena waktu yang terbatas kami
memutuskan untuk mengusahakan mereka berdua. Tetapi tidak menutup ikhtiar yang
lain.”
Jebb…Sungguh
aku kaget tidak menyangka, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
Aku hanya melihat wajah teman-teman di sekitarku bersedih. Aku tak kuasa
melihat kemurungan di wajah mereka, tak kuat melihat tangis mereka, curahan
lelah dan kekecewaan. Dari situ entahlah aku harus memosisikan diriku seperti
apa. Namun Teh Karin memberikan energi yang positif bagi kami, yaitu dengan
ikhlas dan tawakal. Insyaallah ini yang terbaik terlebih tugas Afidah dan aku
akan semakin berat untuk ke depannya. Setelah puas berderai tangis bersama
teman-temanku, aku kembali ke kamar dan melanjutkan tangisku, melihat dinding
yang jelas terpampang foto Mamah dan Bapak. Mendengar rencana aku akan ke luar
negeri, saat aku pulang untuk bertemu keluarga, Mamah tak kuasa menahan tangis.
Beliau-lah yang selalu mendengar rencana dan cita-citaku, khususnya citaku
untuk ke luar negeri. beliau selalu yakin bahwa aku bisa menggapainya, selalu
mengatakan dan menegaskan untuk selalu fokus pada cita-cita. Allah mempermudah
jalan bagiku, tinggal aku yang melayakkan diri untuk optimis berangkat ke
Washington, Insyaallah…
Untuk
menambah dana, Teh Karin melakukan open donasi di media sosial dan japri
orang-orang yang sekiranya dapat membantu untuk keberangkatan kami. Masyallah,,
kupikir ini adalah keajaiban.. donasi yang kami butuhkan sangatlah banyak,
secara negara yang akan kami kunjungi adalah negara besar dan sangat
berpengaruh di dunia. Namun dalam waktu yang terbilang sempit, dana sudah
terkumpul dan cukup untuk keberangkatan kami. Min haitsu laa yahtasib. Allah
semua karena pertolonganmu..
![]() |
| Teh Karin (Kerudung pink sebelah kananku), Afidah (kerudung abu sebelah kiriku). Foto diambil untuk open donasi via sosial media Teh Karin. |
Hari yang baper,
kami berpamitan kepada teman-teman dan para Guru yang ada di Asrama.
Suasana yang haru melihat bagaimana mereka melepas kami yang Insyaallah akan pergi
ke negara Paman Sam nun jauh di sana. Kami menangis, berpelukan, entahlah apa
yang akan terjadi dan kami alami di depan sana.
Rasanya ini sudah menjadi kepastian, kami yakin akan berangkat. Dan Tibalah
tantangan yang “mengerikan” bagiku, yeaahhh… WAWANCARA VISA.!! Ada yang bilang
“Tenang aja, wawancara visa Amerika sebenernya gampang ko’, bisa pake B.
Indonesia” (Hati seketika tenang). Ucap yang lain “Kamu udah punya LOA
kan? mudah kalo udah punya LOA mah, jadi memperkuat” (Hati semakin tenang).
Lain dengan saran Teh Karin, “Siapin aja pake B.inggris juga, coba latihan dan
cari-cari informasi di internet, memang bagusnya sih pake B.inggris”. Ampuuun
dahhh Miiii… Mau sampai kapan terus berada di zona nyaman, kepengennya tuh cari
aman aja tapi gak siap nanggung resiko, gak mau kerja di atas rata-rata orang
lain dan prepare lebih gituu… Padahal sangat jelas di kamarku terpampang
Motto Hidup di sebuah HVS putih berukuran A4 baris ke-4 yang bunyinya
“BEKERJALAH DI ATAS RATA-RATA ORANG LAIN”. So, aku dan Afie menyiapkan beberapa
pertanyaan beserta jawabannya dalam B. Inggris yang sekiranya akan ditanyakan
saat wawancara. Jadwal wawancara aku dan Afie hanya berbeda satu hari saja, dan
Afie mendapatkan jadwal wawancara lebih dulu dariku.
Namun
Qodarullah, VISA AFIE DITOLAK !! Jleeebbb…. Rasanya tetiba aliran
darahku terhenti mendapati tangis histeris Afie yang menceritakan kekurangan
wawancaranya. Hal yang lucu atau agak ngeselin sih di bagian ini adalah
spontan aku dan Afie menangis bersama di bawah pohon yang setengah dari
lingkaran pohon itu tertutupi oleh tembok, tak jauh dari pintu masuk (tempat
antrian kedua) Embassy. Tiba-tiba datang Bapak polisi dan mengatakan
“Mohon maaf.. kalau sudah selesai silahkan pindah ke tempat antrian pertama di
sana yaa,, jangan di sini”, perintahnya dengan nada tinggi dan mata yang
menakutkan. Memang harus mengikuti aturan sih, tapi gimana yaa kenapa ganggu
kami yang sedang bersedih-sedih ria di pohon wkwkwk. Toh nanti juga pindah ko
hehe., yaudah lah itu cerita yang gak terlalu penting sebenernya wkwk. Daerah
dekat pintu masuk memang harus clear area, bahkan yang menunggu pun
tidak boleh di sana. Akhirnya kita pindah dan lanjut menangis jauh dari tempat
antrian kedua hehe.
Saat di
perjalanan pulang hingga tiba di penginapan sungguh aku tak kuasa melihat
kesedihan Afie meski kelihatannya dia berusaha menyembunyikannya. Saat itu,
tidak ada rasa selain takut, was-was, dan tetiba pesimis dan tidak yakin visaku
akan diterima. Saat itu aku ingat nasihat Teh Karin supaya jangan lupa
berdzikir untuk menenangkan hati, juga nasihat Bapak untuk jangan lupa
bersholawat agar hati menjadi lapang. Kami tiba di penginapan sekitar pukul 8
malam, boro-boro melepas pakaian aku
bersegera tilawah untuk mendapatkan kekuatan agar terhindar dari lemahnya hati
dan logika. Sampai akhirnya aku terlelap tidur dan Quran masih dalam genggaman.
Shubuh seperti biasa aku bangun, berusaha untuk melupakan sejenak kejadian
sebelumnya dan fokus dengan hari ini, wawancara visaku. Sungguh aku mendapatkan
semangatku kembali, dukungan dari para guru, keluarga, dan sahabat. Aku juga
sudah mempelajari wawancara Afie sebelumnya, bisa saja aku mendapatkan
pertanyaan yang sama, pewawancara yang sama, dan dalam situasi yang sama. Afie
menyemangatiku dan dia yakin aku pasti akan mendapatkan visa. Kami saling
memberikan kekuatan satu sama lain dan ikhlas dengan ketetapan yang akan Allah
berikan nanti. Saat masuk ke Embassy pemeriksaannya memang sangat ketat.
Setelah diperiksa di suatu ruangan, aku menuju jalan yang sedikit berlorong
menggunakan kain hitam panjang yang menghubungkan ruang pemeriksaan dengan
ruang wawancara, yaaa sedikitnya seperti labirin laah… Deg, tiba saatnya
diwawancara, menurut analisisku pewawancara ini berasal dari Indonesia karena
awalnya dia memberikan beberapa pertanyaan kepadaku dengan B.Indonesia tapi agak
kurang jelas. Dengan tegas, percaya diri, dan tersenyum meyakinkan aku
menjawabnya. Namun saat aku menjawab bahwa alasanku ke sana adalah untuk
konferensi, pertanyaannya langsung beralih menggunakan B.Inggris. Aku jawab
semampuku walau terbata-bata dan ada beberapa pertanyaan yang memang aku
bingung menjawabnya. Lalu aku melihat tangannya menuju ke tempat kertas
berjejer itu (Kertas berwarna Putih, Pink, Kuning, dan Biru). Mataku melotot
mengikuti arah tangannya, berharap mendarat di kertas putih. Namuuuun,,,,
Qodarullah Khair Insyaallah, yang terbaik bagiku adalah aku mendapatkan “Kertas
Pink”, artinya VISAKU DITOLAK. Namun harus kau tau bahwa aku tak
langsung beranjak dari hadapan si pewawancara itu, aku memohon, sangat sangat
memohon dan berkata “Apa yang membuat visa saya ditolak pak? Saya mohon ini
adalah impian saya dan tolong baca dulu berkas-berkas ini (sambil
menyodorkan berkas-berkas penting yang isinya surat yang menunjang kehidupanku
di sana)”. Pewawancara itu hanya menjawab “I’m sorry you can go ! Karena masih banyak yang mengantri di
belakang”, Tak ada yang bisa kulakukan lagi di ruangan itu, aku bergegas
meninggalkan ruangan itu tak kuasa lagi aku menahan air mata. Saat aku berada
di luar dekat ruang wawancara, spontan aku menangis sekuat tenaga. Akhirnya
Allah memutuskan kita berdua tidak berangkat ke Amerika. Awalnya aku berpikir
akan banyak sekali orang yang akan aku kecewakan, khususnya keluargaku. Ini
yang terbaik, ada hikmah di balik semua ini. Banyak sekali ujian, ujian yang
menggoncang hati, pikiran, menguras emosi dan tenaga. Di balik itu semua banyak
sekali pelajaran dan pengalaman yang didapat. Bahwa dalam keadaan apapun,
jangan lupakan Allah dan selalu jadikan Al-quran obat penenang. Maka kekecewaan
tidak akan menjadikan kita kufur. Melainkan menjadikan kita lebih bersyukur
atas kesempatan yang belum tentu orang lain dapatkan, merasakan betapa indahnya
ukhuwah yang terjalin, serta lebih memotivasi dan mengevaluasi diri untuk terus
mencapai cita dan impian dengan ikhtiar terbaik. Bapak selalu mengingatkan
bahwa dalam menjalani hidup kita harus siap berada dalam dua hal, yaitu kondisi
senang dan sedih. Sehingga jika dalam keadaan sedih kita tidak terpuruk dan
takut karena akan ada kebahagiaan menunggu kita. Sebaliknya, jika dalam keadaan
senang jangan lupa bahwa kesedihan mungkin sedang menanti kita. Dua hal yang
saling beriringan yang jika selalu diingat akan menghindarkan kita dari sifat
sombong dan kufur nikmat.
***
Gagal
mendapatkan satu kesempatan bukan berarti menutup kesempatan yang lain bukan ?
Setelah aku gagal meluncur ke Washington, lampu di ruang impianku yang telah
padam kunyalakan lagi bahkan lebih terang, perkakas yang rusak kuperbaiki, ke absurd-an
kondisinya kurapikan kembali. Bagian “Washington” kuubah menjadi “Malaysia”,
Negeri Jiran sarangnya Upin Ipin yang terkenal dengan Menara Kembarnya..
Yupsss, Alhamdulillah Allah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti
konferensi yang tak kalah bergengsi dari rencana sebelumnya. Konferensi se-Asia
Pasifik bernama Global Goals Summit 2019 “ Designing Youth Future For
2030” di Kuala Lumpur Malaysia. Nikmat apalagi yang akan aku dustakan?
Allah mengganti impianku dengan sesuatu yang lebih indah dan lebih baik,
Malaysia sudah menungguku, dana aman karena akad donasi Washington bisa aku
gunakan untuk pergi ke Malaysia dan masih sangat mencukupi. Kupersiapkan
apa-apa yang akan dibutuhkan di sana khususnya materi dan skill inggris.
Saat hari itu tiba, disuguhkan fasilitas bak orang konglomerat. Waaahhh…ketemu
orang-orang hebat, teman baru dari negara yang berbeda. Walau terkendala bahasa
yang obrolanku hanya sebatas “What’s your name?, Where you come from?, I’m
sorry my English not good, Can you explain your country” hehe.. Aku terjebak pada materi-materi yang
menurutku berat namun sebuah keharusan berperan aktif di dalamnya, tak bisa aku
ungkapkan kebanggaan ini, seorang bocah desa pelosok nun jauh di sudut bumi
hadir di tengah-tengah sebuah diskusi fenomenal tentang berbagai masalah dunia
beserta solusinya. Mataku terbuka lebar tuk menyadari kenyataan dunia ini,
menilai negara sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Masyaallah… Tanggal
yang sangat bersejarah bagiku, 20-23 Januari 2019, Malaysia menjadi bukti
perjuangan, pena akan terisi penuh dengan ceritanya di ruang impianku.
“TERCAPAI” (kucentang tebal di Planner Book 2019), citaku pergi ke luar
negeri tak kubayangkan akan secepat ini, di semester yang sedini ini. Aku yakin
bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Momen
yang tak kalah mengharukan adalah ketika aku dan 9 akhwat Kader Surau yang lain
menampilkan Tarian Ratoh Jaroe di opening acara tersebut. Tarian
tradisional Indonesia asal Aceh, dibawakan dengan tampilan berbeda dari
biasanya. Menari dengan pakaian syar’i, terhitung kurang lebih kami latihan
hanya 2 bulan, satu kali perdana tampil di Bandung, dan dalam waktu dekat
setelah itu tampil di Malaysia !! Jam terbang yang singkat namun sudah tampil
di luar negeri. Suatu pencapaian yang luar biasa bagiku dan teman-temanku,
penonton sangat terkesan dengan penampilan kami, suara tepuk tangan gemuruh
dari ujung kanan sampai kiri.
| Penampilan KS Rajoe di Opening Acara Global Goals Summit 2019, Kuala Lumpur Malaysia |
Daaaan..
momen yang tak kalah mengharukan lagi yang membuat jantung berdebar kencang dan
seketika itu bermunculan visi dan misi untuk masa depan yang lebih baik, lebih
kerennya resolusi untuk dunia tahun 2030 adalah ketika pembagian sertifikat dan
selempang. Satu persatu nama dipanggil dan tibalah namaku menggema di ruangan
itu “Next Delegate, Mia Helmiyani From Indonesia !!!”… “Allah..
Allah… Allah…“ Hanya kata itu yang bisa aku katakan saat menyusuri panggung
berkarpet merah itu. Seorang anak yang terlahir dari seorang ibu luar biasa,
besar di perkampungan yang jarang tahu dunia luar, seorang introvert yang
selama ini hobinya hanya bicara dengan pena yang dia punya, tetiba namanya
dipanggil di hadapan para pemimpin yang mendunia, di depan delegasi-delegasi di
sudut bumi yang berbeda. Tiba di tengah panggung, seseorang mengenakanku
selempang hitam dipadu dengan garis pinggir berwarna emas. Selempang
bertuliskan “GLOBAL ACTION AMBASSADOR” yang dijahit dengan benang
berwarna emas mengkilap disertai logo SDG’s di bagian ujung atas. Kau tahu apa
yang saat itu jatuh menimpa jiwaku setelah selempang itu melilit di sebagian
tubuhku?.. Benar, Amanah dan tanggug jawab mengamalkan poin-poin SDG’s. Saat
itu terngiang di telingaku “Ayoo Miii… Dunia Membutuhkanmu !!”. Momen itu
membalikkan pandanganku 180 derajat tentang dunia. Aku sadar sudah lama mataku
tertidur dan membaca kenyataan dengan tembok keras di depanku. Sudah saatnya
aku dobrak tembok itu dan keterjunkan diri ini untuk tugas mulia bagi ummat.
Mendengar
perjalanan ini, keluargaku sejujurnya tidak banjir air mata seperti sebelumnya,
namun lebih kepada mengerenyitkan alis, memasang wajah aneh penuh tanya. “Ko
bisa?”.. Setiap detik mereka tak jemu mendengar ocehanku. Setidaknya aku bisa mengobati keluargaku yang
sempat kecewa saat aku gagal pergi ke Washington dulu. Mereka sangat bersyukur
dan aku tak akan lelah untuk selalu berusaha membuat mereka bangga.
Sang
Pemerhati Terbaik berfirman dalam Al-quran: “Dan barangsiapa yang bertawakal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath-Thalaq:3). Kekuatan
tawakal menjadikan semua pandangan kita terhadap segala sesuatu menjadi
positif. Allah mentakdirkan semua yang akan terjadi kepadaku, tugasku menerima
segala ketentuan yang Dia berikan dengan penuh suka cita. Rosulullah
mengajarkan kepada ummatnya agar jangan berputus asa dari Rahmat Allah. Maka
aku tak akan berhenti untuk mengejar cita-cita, seberat apapun ujiannya Allah
selalu membersamai. Dalam perjalanan ini motto hidup yang paling ngena
banget adalah “Man Jadda Wajada”, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan
berhasil. Allah tidak akan memberikan ujian kepada manusia di luar batas
kemapuannya bukan? Maka aku mampukan diri ini untuk terus berusaha menjemput
kesuksesan.
***
Ruang
impian ini terbentuk saat aku berada di Kader Surau, titik balik pertama untuk
mengubah komitmen dalam hidup. Terima kasih Allah, karena eloknya skenario
cinta kepada setiap hamba-Mu, karena perhatian-Mu membuatku lebih mencintai dan
merindui untuk berduaan dengan-Mu, merengek meminta apapun menjelang fajar.
Menjadi penikmat kalam-Mu sungguh menyenangkan. Terima kasih Bapak, yang
hobinya mengoleksi potongan-potongan berita dari majalah kemudian menempelnya
di buku bekas, membuat quote iseng-iseng nulis di buku-buku bekas juga
yang sering aku copas hehe.. menjadi teman diskusi tentang Islam dan
politik, walau keluaran SD Bapak adalah orang yang sangat kritis, dan teman
nonton berita di TV One sampe larut malam kalau aku pulang ke Garut. Terima
kasih Mamah, yang selalu setia mendengar curhatan mia, Mamah yang suka baper
ampe nangis kalo aku mau menangor lagi, masakannya selalu menjadi favorit dan
dirindukan. Salam rindu dari anakmu yang manja ini Mah Pak.. :’) Terima kasih
juga Kakak-kakakku yang pada bawel mengatur makananku di Jatinangor, karena tak
mau salah belanja lagi, kalau beli apa-apa harus laporan dulu wkwk. Juga adikku
yang nulisnya beuuhhh jago pisaan.. Piala berjejer di rumah karena prestasimu.
Moga aku senantiasa menjadi kakak yang patut dicontoh olehmu hehe.
![]() |
| Keluarga Firmansyah yang aku cintai. Bapak, Mamah, 3 Kakak perempuanku, 1 kakak laki-lakiku, dan 1 adik laki-lakiku. |
Tak
lupa kuucapkan terima kasih kepada Teh Karin dan Kang Supri, yang sudah menjadi
orang tuaku di Asrama. Sepasang suami yang diam-diam aku selalu pelajari cara
mereka berinteraksi sebagai sepasang suami istri, sebagai orang tua, banyak
sekali ilmu kerumah tanggaan yang kudapat dari mereka. Mereka yang tak pernah jemu menasihatiku, membinaku, dan sabar dengan kenakalanku. Aku ingin merealisasikan
harapan mereka berdua, Kang Supri pernah berkata “ Akang dan Teteh menaruh
harap pada antum semua agar bisa mewarnai kampus dan masyarakat dengan warna
seorang Kader Surau yang selain mempunyai kepemimpinan yang bagus, akhlak
mulia, integritas, dan juga prestasi yang kredibel”. Teruntuk pula
sahabat-sahabatku selama aku sekolah, kuliah, hingga bertemu dengan sahabat di
Kader Surau, terima kasih atas ukhuwah yang telah dijalin.
***
Dalam
ruang impian masih banyak cita yang belum tercentang, ada yang sedang aku ukir,
sedang aku jalani, ataupun sedang aku tunggu. Perihal mengapa aku memilih Prodi
Jurnalistik, saat itu yang ada di pikiranku adalah “Aku ingin menjadi penulis
agar aku bisa mengubah Dunia hanya dengan kata-kata”. Namun ada bagian misteri
dalam ruang impianku yang harus kupersiapkan dengan penuh keimanan, yaitu
“Kematian”. Kapanpun kematian bisa menjemputku. Semoga di ruang impianku
dilimpahkan banyak keberkahan serta senantiasa mengalir kebaikannya untuk
ruang-ruang impian yang lain. Termasuk kamu.. Kutunggu cerita ruang impianmu.. J
***
Ruang
Impian…
Dulu hanya
gubuk kecil, kosong dan hampa
Tanpa rupa
dan warna
Hingga
terpetik jiwa si perantau ragawi
Yang merindui
malam sepi pada pemilik syurgawi
Akulah
pemeran utama, penghuni ruang itu
Dengan
pena yang kupunya, menjadi arsitek impian
Mengubah
si gubuk menjadi bangunan elok
Allah,
ridhoi segala isinya..
Atas nama
cita dan cinta
Bagi yang
penasaran apa arti dari 314,.. J
3
adalah M
1
adalah I
4 adalah A
#At Ruang Impian, 30 Januari 2019




Comments
Post a Comment